Seorang bidan muda tergopoh-gopoh menggendong bayi
yang baru dilahirkan. Wajahnya yang sebelumnya tegang terlihat lega.
"Selamat, Bu, bayinya laki-laki. Sekarang, Ibu istirahat dulu, ditemani
Bapak. Saya akan memandikan si Kecil, ya," ujar si bidan sambil
tersenyum. Kedua orangtua bayi cuma mengangguk. Mereka sudah kehabisan
kata-kata untuk melukiskan kegembiraan.
Pada masa lalu, siswi calon bidan selalu diajari untuk memandikan
bayi yang baru dilahirkan, segera setelah selesai menolong dan merawat
ibu si bayi. Sampai sekarang, kebiasaan langsung memandikan bayi baru
lahir sepertinya tetap berlaku "turun-temurun" di dunia perbidanan.
Terlebih di kalangan dukun beranak atau dalam bahasa kerennya disebut the traditional birth attendant.
Memandikan bayi baru lahir seolah menjadi prosedur tetap, karena bayi
dianggap kotor lantaran berlumuran darah, lendir, mekonium (kotoran
bayi, berwarna hitam kental), dan air ketuban. Apalagi jika kulit bayi
juga diselimuti lemak berwarna putih - vernix casiosa - yang tampak menjijikkan, sehingga harus dibersihkan dengan kapas yang telah diberi minyak asli dari kelapa.
Tuntutan serupa kadang juga datang dari pihak keluarga. Orangtua yang
beragama Islam, misalnya, pasti ingin segera mengumandangkan azan di
telinga bayi, sebelum anaknya sempat mendengar kata-kata lain. Untuk itu
bayi harus dalam keadaan bersih dari beragam kotoran - semacam ritual
wudhu begitu. Bisa disimpulkan, upaya memandikan bayi yang baru
dilahirkan ini telah menjadi tradisi. Lalu, mengapa harus
dipermasalahkan?
Bayi yang baru lahir sebenarnya tidak tepat kalau segera dimandikan,
dengan air hangat sekalipun. Soalnya, ia belum bisa menyesuaikan diri
dengan keadaan di luar kandungan ibunya. Kalau tiba-tiba tubuhnya basah
oleh air, air (yang menjadi) dingin di tubuhnya akan mengambil panas
dari tubuhnya. Akibatnya, suhu tubuhnya turun cepat.
Jika bayi yang baru lahir mengalami kehilangan suhu tubuh, darah yang
mengalir membawa oksigen ke seluruh tubuh akan berkurang. Akibatnya,
kulit, tangan, kaki, dan wajahnya tampak biru. Akibat kekurangan oksigen
itu pula, sel-sel tubuh bayi dapat mengalami kerusakan, terutama
sel-sel di daerah otak yang dikenal sangat sensitif. Bisa dibayangkan,
apa yang terjadi pada bayi kelak, kalau sel-sel otaknya rusak.
Mestinya, segera setelah lahir, bayi yang basah oleh darah, lendir,
mekonium, dan air ketuban cukup dikeringkan dengan menggunakan handuk
kering yang halus dan bersih, agar bayi tidak kedinginan, sembari diberi
sentuhan mirip pijatan halus. Supaya bayi tidak kehilangan suhu tubuh,
jaga agar dia tetap hangat, misalnya dengan mendekapkan bayi di atas
dada ibunya dan beri susu sebelum 30 menit pertama kelahiran.
Usahakan juga tidak menempatkan bayi di dekat atau di atas
benda-benda dingin. Pada saat menimbang berat badan, sebaiknya bayi
tetap dibungkus dengan kain kering. Untuk mendapatkan angka timbang
objektif, kurangi beratnya dengan berat kain pembungkusnya. Hindari juga
ruangan yang ada hembusan anginnya atau ber-AC.
Mandikan bayi minimal enam jam setelah lahir, atau sampai suhu
tubuhnya stabil. Untuk bayi berat lahir rendah tentu perlakuannya harus
lebih hati-hati.
Sebagai orangtua si bayi kita diharapkan memahami penundaan mandi
ini. Sebab, persalinan disebut sukses kalau ibu dan bayinya selamat, tak
hanya pada saat persalinan, tetapi juga ke depan. Untuk itu, dampak
salah perlakukan dalam persalinan harus diminimalkan.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact